Kampung Melayu: The Street of Harmony in Semarang City

sumber gambar: rmoljawatengah.id
Ika Dewi Retno Sari
Ditulis sebagai materi perbincangan
Komunitas Bersuara Radio DAIS Semarang

Kota Semarang telah mengalami masa-masa perkembangan dari mulai munculnya sebagai kota tradisional, kota kolonial dan kota modern menunjukkan ciri spesifik terutama pada perkembangan permukiman kota atau kampung kota. Menurut penuturan Amen Budiman dalam bukunya, Kota Semarang sampai menjadi bentuk seperti sekarang ini bermula ketika awal tahun 1476 M ( 1398 Çaka ) Pandan Arang datang dan bermukim di bukit Bergota di pulau Tirang untuk berdakwah dan menyebarkan agama Islam. Pada perkembangannya kemudian banyak pengikut Pandan Arang dan pendatang dari luar kota yang  juga bermukim di sana. Semakin lama pemukiman ini semakin  ramai dan membentuk kota, yang kemudian disebut sebagai Semarang. Melihat perkembangan sejarah kota Semarang, tercatat bahwa Semarang memiliki banyak kampung-kampung kuno, yang merupakan embrio perkembangan kota. Nama kampung-kampung kuno ini  disesuaikan dengan kelompok  etnis, pekerjaan atau kondisi dan situasi yang pernah terjadi di kampung tersebut, seperti kampung Pecinan, kampung Melayu, kampung Kauman, kampung Batik, kampung Kulitan , kampung Geni dan lain sebagainya.     Kali ini secara khusus, Sigarda akan membahas tentang Kampung Melayu, sebuah kampung kuno yang berlokasi di bagian utara kota Semarang yang terbentuk pada sekitar akhir abad ke-16. Kampung Melayu memiliki  potensi  citra  budaya  yang  khas  yaitu  multi  etnik 

Ada berbagai penafsiran terhadap nama Kampung Melayu, dalam buku Amen Budiman nama ini dipakai untuk menandai bahwa kampung tersebut didiami orang-orang yang berasal dari luar Semarang seperti orang  Aceh, Banjar, Sumatra (Melayu), Bugis, Gersik, Samudera Pasai dan orang asing seperti Cina, Arab dan India/Gujarat. Selain itu nama kampung Melayu digunakan untuk membedakannya dengan kampung pribumi, karena diperkirakan kampung tersebut dibangun oleh pedagang-pedagang dari Melayu, Arab dan India. Ciri yang menegaskan sebutan kampung Melayu adalah bahwa saat itu masyarakat yang berdiam di sana menggunakan bahasa Melayu dalam berkomunikasi dan berinteraksi. Diperkirakan  dasar dari pembentukan kampung Melayu sudah ada sejak sekitar tahun 1400, yaitu ketika Pandan Arang mulai membuka daerah Semarang. Wilayah sekitar muara sungai Semarang yang  yang saat itu menjadi sarana lalu lintas pelayaran perahu-perahu kecil mulai ramai disinggahi pedagang yang berasal dari luar Semarang (Budiman, 1978:48).
sumber gambar: penelitian Suharto Budi Sumadi

Ketika Belanda memindahkan pelabuhan dari Mangkang ke Boom Lama (Boom  artinya dermaga) pada tahun 1743, aktivitas perdagangan  yang melalui sungai Semarang semakin ramai karena lokasi Boom Lama dekat dengan pasar Pedamaran yang menjadi pusat perdagangan saat itu. Kawasan sekitar Boom Lama ini kemudian berkembang menjadi dusun atau desa, karena para pedagang banyak yang tinggal menetap di wilayah tersebut. Dusun tersebut sampai saat ini dikenal sebagai Kampung Darat (Ndarat). Tidak jauh dari Kampung Darat berkembang pula permukiman yang dikenal sebagai Kampung Ngilir. Pada akhirnya kedua kampung ini menyatu menjadi kampung yang padat dan luas. Gabungan dari dua kampung tersebut menjadi Kampung Besar, yang peduduknya dari beragam etnis

Penduduk Kampung Melayu pada pertengahan abad ke-18 semakin berkembang dalam hal jumlah dan etnisitasnya. Nama-nama kampung yang berada di lingkungan kampung Melayu menunjukkan keadaan lingkungan, situasi maupun berdasarkan etnis penghuninya, seperti berikut:
  1. Kampung Darat atau ‘ndarat’. Nama ini dipakai karena tempat tersebut Kampung merupakan tempat mendarat perahu-perahu yang datang dari luar kawasan.   
  2. Kampung Ngilir atau ‘ngeli. Kata ”ngilir“ atau ”ngeli“ memiliki arti mengalir atau hanyut, karena letak dusun tersebut berada ditepi kali Semarang, yang sekarang jadi mulut kampung Melayu Semarang
  3. Kampung Kali Cilik.  Dinamakan kampung Kali Cilik karena di kampung tersebut terdapat sungai kecil (‘kali ciIik’). Kali cilik ini merupakan anak sungai dari kali Semarang, yang dahulu dapat dilayari oleh perahu-perahu kecil.
  4. Kampung Pencikan. Dinamakan ‘pencikan’ karena penduduknya kebanyakan orang Melayu, yang dalam pergaulan sehari-hari menggunakan panggilan ‘encik’.
  5. Kampung Geni Besar. Latar belakang penamaan kampung Geni Besar  adalah karena dahulu pernah terjadi kebakaran besar di kampung ini. Dalam bahasa Jawa “geni” berarti  ‘api’.
  6. Kampung Cerbonan. Kampung ini dinamakan kampung Cerbonan, karena di kampung ini dulu ada seorang tokoh yang berasal dari Cirebon yang cukup berpengaruh dan dihormati oleh masyarakat. Selain itu penduduk kampung ini sebagian besar berasal dari Cirebon.
  7. Kampung Banjar. Dinamakan kampung Banjar, karena mayoritas penduduk kampung Banjar pada awalnya adalah etnik Banjar.
  8. Kampung Peranakan. Dinamakan kampung Peranakan, karena sebagian besar penduduk kampung tersebut adalah masyarakat keturunan Arab dari Hadramaut.
  9. Kampung Baru. Kampung Baru merupakan kampung yang terbentuk pada masa yang relatif baru dibandingkan dengan kampung-kampung yang lain. Hal yang menarik di kampung Baru ini adalah masyarakat yang sangat heterogen yaitu masyarakat etnik Banjar dan etnik Arab Hadramaut, yang hidup berdampingan secara harmonis. Hubungan yang erat dalam lingkungan masyarakat ini ditandai dengan bentuk rumah yang memiliki lorong penghubung antar-tetangga.
  10. Kampung Pulo Petekan. Kampung ini dinamakan kampung Pulo Petekan karena bentuk blok kampung yang menyerupai pulau serta dikarenakan letak kampung ini tepat berada di mulut jalan Petek.

Toponimi nama jalan maupun nama-nama kampung di Kampung Melayu ini merupakan satu bentuk ”identitas lingkungan”, yang mencerminkan kondisi dan ekspresi dari aktivitas dan peristiwa yang terjadi di lingkungan tersebut. Blok-blok permukiman di Kampung Melayu terjadi karena adanya proses pengelompokan sosial, berdasarkan pada kekerabatan dan identitas etnik penghuninya. Munculnya toponim blok- blok permukiman untuk menunjukkan tempat bermukim  secara spesifik, dan juga menunjukkan keberadaan tempat tersebut pada suatu lingkungan tertentu. Munculnya toponim (nama) blok permukiman di Kampung Melayu berdasarkan fenomena pada waktu itu.

Sampai abad ke-18 Kampung  Melayu dapat disebut kampung yang multi etnis. Walaupun demikian warganya dapat menjalankan kepentingan sosial, keagamaan dan budaya secara harmonis. Bukti bahwa masing-masing kelompok etnis saling menghargai  adalah adanya masjid kuno yaitu masjid Menara Layur yang dibangun tahun 1802 M dan dan Klenteng Dewa Bumi dibangun tahun 1900 M. Beragam  artefak  arsitektur di Kampung Melayu selain Masjid dan Klenteng, dapat dilihat juga berbagai bangunan rumah dengan gaya Indis, Arab, Melayu, Jawa, dan Banjar.  Masyarakat  yang  menghuni  Kampung  Melayu  selain masyarakat asli Semarang, juga terdiri dari etnis lain seperti Arab, Tionghoa, Banjar, Melayu, Jawa,  Cirebon  dan  lain-lain.  Kampung  Melayu  Semarang  memiliki  nilai-nilai  kearifan  lokal yang  terbentuk  dari  adaptasi  dan  hubungan  yang  harmoni  antara masyarakat kampung Melayu yang multi etnis dengan lingkungannya. Terbangun secara  alamiah  berbasis  nilai  budaya  setempat,  adat  istiadat  dan  nilai-nilai  yang  dipegang teguh  secara  turun  temurun  sebagai  kebudayaan. 

Kampung Melayu sebagai kampung tradisonal yang terbentuk pada awal pemerintahan kota mengalami dinamika dan perubahan yang pesat sampai saat ini. Walaupun telah mengalami perubahan, tetapi bayak hal yang masih dapat ditandai sebagai identitas dari kampung-kampung tersebut. Hal lain yang terkait dengan perubahan kampung kuno tersebut, tidak hanya dilihat dari aspek fisik saja tetapi juga terkait dengan dinamika masyarakatnya. Di kampung-kampung kuno tersebut, saat ini tidak hanya bermukim kelompok-kelompok etnis tertentu saja, melainkan etnis-etnis lain juga telah bermukim cukup lama, berbaur dan berinteraksi dengan harmonis. Kehidupan yang harmonis antar-etnis di kota Semarang merupakan suatu aset yang tak ternilai. Keharmonisan ini telah membentuk budaya yang sangat unik dan beraneka ragam, yang memberi sumbangan pada kebudayaan nasional.

Keberadaan Koridor Layur pada saat ini masih sangat memprihatinkan, terlihat kumuh, dan rawan kriminalitas. Banyak bangunan ruko pecinan yang tidak berfungsi, rusak dan runtuh sedangkan gerbang rumah saudagar Arab ada beberapa yang sudah tidak berfungsi karena sudah tidak terdapat rumah saudagar Arab lagi. Permasalahan yang muncul dikarenakan beberapa faktor dan aspek dalam kaitanya dengan perkembangan Kota Semarang. Keberadaan koridor perdagangan seperti Koridor Layur di Semarang sudah mulai luntur karena sudah digantikan dengan gedung-gedung yang dilengkapi fasilitas modem dan memberikan kenyamanan bagi pengunjungnya terhadap pengaruh alam seperti hujan dan panas matahari. Meskipun saat ini Kampung Melayu bersama dengan Kota lama, Pecinan dan Kauman telah ditetapkan sebagai kawasan Heritage tingkat Nasional, tetapi masih  diperlukan usaha keras untuk kembali menggali dan mendiskripsikan proses perkembangan Koridor Layur di Kampung Melayu Semarang. Saat ini Pemerintah Kota Semarang sedang melakukan revitalisasi jalan di Koridor Layur.Upaya pelestarian harus terus dilakukan dalam perencanaan dan perancangan wilayah kota sehingga sense of place dan jejak sejarah dari satu tempat tetap terjaga dengan baik.

Sumber Tulisan:
  • Budiman, Amen, 1978, Semarang Riwayatmu Dulu, Semarang : Tanjung Sari.
  • Madiasmoro, Taufan, 2001 Pengaruh Kebudayaan Banjar terhadap Bentuk Rumah Panggung Masyarakat Banjar di Kampung Melayu Semarang, Tesis Pasca Sarjana Teknik Arsitektur UNDIP.
  • Madiasworo, Taufan, ST, MT, Revitalisasi Nilai-Nilai Kearifan Lokal Kampung Melayu Semarang Dalam Pembangunan Berkelanjutan, Jurnal Lokal Wisdom Volume: I,   Nomor: 1,  Halaman:  10 – 18, Nopember 2009.
  • Widiangkoso, G Epri, 2002, Morfologi Kampung Melayu Studi Kasus : Morfologi Koridor Layur Semarang, Tesis Pasca Sarjana Teknik Arsitektur UNDIP.

 

0 Komentar

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama