Warisan Budaya Indonesia Milik Bersama

Candi Borobudur/wikimedia
Oleh: Ika Dewi Retno Sari (Sigarda Indonesia)

Warisan budaya adalah benda atau atribut tak benda yang merupakan jati diri suatu masyarakat atau kaum yang diwariskan dari generasi-generasi sebelumnya, serta dilestarikan untuk generasi-generasi yang akan datang. Warisan budaya dikategorikan menjadi dua kelompok yaitu warisan budaya berwujud benda dan tak benda.

Warisan budaya berwujud benda meliputi; warisan budaya bergerak (koin, manuskrip, artefak, lukisan); warisan budaya tak bergerak (monumen, situs arkeologi, kawasan); dan warisan budaya bawah laut (bangkai kapal, reruntuhan bawah air).

Warisan budaya berwujud tak benda meliputi praktik, ekspresi, pengetahuan atau keterampilan, dan ruang budaya. Warisan budaya pada dasarnya dikelompokkan berdasarkan tingkatan nilai penting bagi masyarakat tingkat daerah, provinsi, nasional, hingga dunia. Pemerian nilai penting tersebut berdasarkan assesment tim ahli warisan budaya dengan standar penilaian yang telah ditetapkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.

Indonesia memiliki beberapa tinggalan yang sudah disetujui menjadi Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO (The United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization). Artinya, tinggalan tersebut bukan lagi milik masyarakat Indonesia semata, namun menjadi milik bersama masyarakat dunia. Berikut lima Warisan Budaya Dunia Benda dari Indonesia.

1. Candi Borobudur
Pada tanggal 13 September 1991, Kompleks Candi Borobudur secara resmi ditetapkan oleh UNESCO sebagai situs Warisan Budaya Dunia karena dianggap memenuhi kriteria Nilai Universal Luar Biasa. Candi tersebut dibangun pada abad ke-8 dan 9 Masehi oleh penguasa Kerajaan Medang dari Dinasti Syailendra, kompleks percandian ini merepresentasikan kemegahan tinggalan dinasti tersebut, yang berkuasa di Jawa sampai dengan abad ke-10 Masehi. Candi Borobudur terletak di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Kompleks candi ini juga pernah masuk daftar tujuh keajaiban dunia.
sumber: pinterpandai.com

2. Candi Prambanan
Candi Prambanan atau Candi Loro Jonggrang adalah kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia yang didirikan pada abad ke-9 masehi. Komplek candi ini terletak di kecamatan Prambanan, Sleman dan kecamatan Prambanan, Klaten. kurang lebih 17 kilometer timur laut Yogyakarta, 50 kilometer barat daya Surakarta dan 120 kilometer selatan Semarang, persis di perbatasan antara Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Letaknya sangat unik, Candi Prambanan berada di wilayah administrasi Desa Bokoharjo, Prambanan, Sleman, sedangkan pintu masuk kompleks Candi Prambanan terletak di wilayah administrasi Desa Tlogo, Prambanan, Klaten.

Candi ini dipersembahkan untuk Trimurti, tiga dewa utama Hindu yaitu Brahma sebagai Dewa Pencipta, Wisnu sebagai Dewa Pemelihara, dan Siwa sebagai dewa Pelebur dan Pengembali ke Zat Semula. Berdasarkan Prasasti Siwagerha, nama asli kompleks candi ini adalah Siwagerha (bahasa Sanskerta yang bermakna ‘Rumah Siwa’), dan memang di garbagerha (ruang utama) candi ini terdapat arca Siwa Mahadewa setinggi tiga meter yang menunjukkan bahwa di candi ini dewa Siwa lebih diutamakan. Menurut Prasasti Siwagerha pula, candi ini mulai dibangun pada sekitar tahun 850 Masehi oleh Rakai Pikatan, dan terus dikembangkan dan diperluas oleh Raja Balitung dari Kerajaan Medang.

Candi ini ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada 13 Desember 1991 bersamaan dengan penetapan Candi Borobudur. Selain dikenal sebagai candi Hindu terbesar di Indonesia, Candi Prambanan juga diakui sebagai salah satu candi terindah di Asia Tenggara. Arsitektur bangunan ini berbentuk tinggi dan ramping, sesuai dengan arsitektur Hindu pada umumnya. Candi Siwa sebagai candi utama memiliki ketinggian mencapai 47 meter, menjulang di tengah kompleks gugusan candi-candi yang lebih kecil. Sebagai salah satu candi termegah di Asia Tenggara, candi Prambanan menjadi daya tarik kunjungan wisatawan dari seluruh dunia.
sumber: worldhistory.org/andrea schieber

3. Situs Manusia Purba Sangiran
Sangiran adalah situs arkeologi yang terletak di lembah Sungai Bengawan Solo, Jawa Tengah. Situs Sangiran saat ini tidak hanya dikenal di Indonesia, melainkan di dunia Internasional sebagai situs yang mampu menyumbangkan pengetahuan penting mengenai bukti-bukti evolusi (perubahan fisik) manusia, fauna, kebudayaan, dan lingkungan, yang terjadi sejak dua juta tahun yang lalu. Karena nilai-nilainya, Situs Sangiran ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO. UNESCO menetapkan Situs Sangiran sebagai Warisan Budaya Dunia dengan nomor 593 pada tahun 1996, bernama The Sangiran Early Man Site.

Nama Situs Sangiran mulai dikenal sejak seorang peneliti Belanda bernama Von Koenigswald melakukan penelitian pada tahun 1934. Pada waktu itu, Von Koenigswald menemukan alat-alat batu hasil budaya manusia purba dalam penelitiannya di Situs Sangiran. Selanjutnya, pada tahun 1936 ditemukan fosil manusia purba pertama di Situs Sangiran. Setelah itu, tahun demi tahun penelitian semakin banyak dilakukan di Sangiran yang menghasilkan berbagai temuan, baik berupa fosil manusia, fosil hewan, alat tulang, dan alat batu.

4. Subak
Subak adalah kata yang berasal dari bahasa Bali. Kata tersebut pertama kali muncul dalam Prasasti Pandak Badung yang berangka tahun 1072 Masehi. Kata subak tersebut mengacu kepada sebuah lembaga sosial dan keagamaan yang unik, mempunyai pengaturan tersendiri, asosiasi-asosiasi demokratis dari petani dalam mengatur penggunaan air irigasi untuk pertumbuhan padi.

Subak bagi masyarakat Bali bukan sekadar sistem irigasi, melainkan juga merupakan filosofi kehidupan bagi rakyat Bali itu sendiri. Dalam pandangan masyarakat Bali, subak adalah cerminan langsung dari filosofi dalam agama Hindu Tri Hita Karana (tiga penyebab kebaikan), yang mempromosikan hubungan yang harmonis antara individu dengan alam semangat (parahyangan), dunia manusia (pawongan), dan alam (palemahan).

Sebagai suatu sistem pengaturan hidup bersama, subak mampu bertahan selama satu abad lebih karena masyarakatnya setia kepada tradisi leluhur. Pembagian air dilakukan secara adil, segala masalah dibicarakan bersama, bahkan sampai penetapan waktu tanam dan jenis padinya. Sanksi terhadap segala bentuk pelanggaran akan ditentukan sendiri oleh warga melalui upacara yang dilakukan di pura. Harmonisasi kehidupan inilah yang menjadi kunci lestarinya budaya subak.

Pada tanggal 29 Juni 2012 dalam sidang ke-36 Komite Warisan Dunia UNESCO di kota Saint Peterburg, Federasi Rusia, pengusulan subak sebagai Warisan Budaya Dunia telah disetujui dan ditetapkan. Sesuai dengan pengajuannya, subak di Bali yang memiliki luas sekitar 20.000 hektare, terdiri atas subak yang berada di empat kawasan sebagai satu kesatuan, terdiri atas Catur Angga Batukaru di Kabupaten Tabanan, Pura Taman Ayun di Kabupaten Badung, Hulu Sungai Pakerisan, Kabupaten Gianyar, serta Pura Ulun Danu Batur dan Danau Batur di Kabupaten Bangli.
sumber: popbela.com/indonesiaexpat.biz

5. Tambang Batu Bara Ombilin Sawahlunto
Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto, untuk selanjutnya disebut Warisan Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto, ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO. Penetapan ini diumumkan pada gelaran sesi ke-43 Pertemuan Komite Warisan Dunia pada tanggal 6 Juli 2019 di Kota Baku, Azerbaijan.

Warisan Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto dipandang pantas diposisikan sebagai warisan dunia karena konsep tiga serangkai yang dicetuskan oleh Pemerintah Belanda pada masa itu. Tiga serangkai meliputi industri pertambangan batubara di Sawahlunto, yang selanjutnya dibawa keluar Sawahlunto dengan menggunakan transportasi kereta api melalui wilayah Sumatera Barat, dan sistem penyimpanan di Silo Gunung di Pelabuhan Emmahaven, atau Teluk Bayur, Padang, Sumatra Barat sekarang.

Ini menunjukkan perkembangan teknologi perintis abad ke-19 Masegu yang menggabungkan antara ilmu teknik pertambangan bangsa Eropa dengan kearifan lingkungan lokal, praktik tradisional, dan nilai-nilai budaya dalam kegiatan penambangan batubara yang dimiliki oleh masyarakat Sumatera Barat.

Hubungan sistemik industri tambang batubara, sistem perkeretaapian, dan pelabuhan ini berperan penting bagi pembangunan ekonomi dan sosial di Sumatera dan di dunia. Warisan Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto menggambarkan dinamisnya interaksi sosial dan budaya antara dunia timur dan barat, yang berhasil mengubah daerah tambang terpencil menjadi perkotaan dinamis dan terintegrasi.
sumber: pekanbaru.tribunnews.com

 
Di sadur dari Laman Kemendikbud.go.id



1 Komentar

Posting Komentar

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama