Warak Ngěndhog: Hewan Mitologis Pemersatu Antaretnis di Semarang

Warak Ngěndhog diarak pada Dugderan | sumber: boombastis.com
Oleh Pippo Agosto

Warak ngěndhog adalah wujud yang selalu muncul dalam perayaan Dugderan. Dugderan adalah suatu festival rakyat di Kota Semarang, Jawa Tengah yang diadakan untuk menyambut dan memeriahkan datangnya bulan Ramadhan, sekaligus sebagai upaya dakwah.

Kata warak berasal dari bahasa Jawa yang bermakna badak. Kendati demikian, ada pendapat lain mengatakan, bahwa warak berasal dari bahasa Arab yang bermakna suci. Adapun ngěndhog (bertelur) melambangkan hasil pahala yang didapat seseorang setelah menjalani proses penyucian. Secara harfiah, warak ngěndhog dapat diartikan bahwa siapa saja yang menjaga kesucian di bulan Ramadhan, kelak di akhir bulan akan menerima pahala pada hari kemenangan.

Warak ngěndhog ini wujudnya merupakan akulturasi dari berbagai golongan etnik di Semarang yaitu etnik Jawa, Tionghoa, dan Arab. Wujud kepalanya menyerupai kepala naga merupakan pengaruh budaya dari etnik Tionghoa, sedangkan tubuhnya berambut ikal-keriting ataupun lurus-berjumbai seperti rambut unta menunjukkan pengaruh budaya dari etnik Arab, kemudian keempat kakinya menyerupai kaki kambing mewakili pengaruh budaya etnik Jawa. Konon, ciri khas bentuk warak ngěndhog yang lěmpěng (lurus) ini mengandung arti filosofis mendalam. Bentuk lěmpěng itu menggambarkan citra warga Semarang yang terbuka lurus dan berbicara blak-blakan (lugas) apa adanya.
sumber: ppid.semarangkota.go.id
Di muka telah disebutkan, bahwa kehadiran warak ngěndhog berkaitan erat dengan Festival Dugderan. Konon yang pertama kali menggelar Dugderan adalah Bupati Semarang Kangjeng Bupati Raden Mas Tumenggung Arya Purbaningrat pada tahun 1881. Istilah Dugderan berasal dari "dug dug dug" suara bedug yang ditabuh dan "der der der" dari suara meriam yang dulunya digunakan sebagai penanda dimulainya awal bulan Ramadhan.

Dua sejarawan Semarang Liem Thian Joe dan Amen Budiman dalam buku-buku mereka, tidak pernah menyebut siapa pencipta warak ngěndhog dan kapan waktu penciptaannya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Amen Budiman, diperkirakan wujud rekaan yang menjadi maskot acara itu mulai dikenal masyarakat pada akhir abad ke-19. Asumsinya ini dilihat dari kemunculan mainan warak ngěndhog dalam setiap perayaan měgěngan atau Dugderan. 

Dalam Festival Dugderan, warak ngěndhog yang berwarna-warni ditampilkan bersama para penari. Penari-penari dari perwakilan tiap wilayah Kota Semarang yang menggotong warak ngěndhog juga mengenakan warna-warni busana tradisional Semarang. Setelah upacara selesai, warak ngěndhog dan rombongan penari serta para warga yang mengikuti karnaval ikut arak-arakan dengan berjalan kaki menyusuri bagian tengah Kota Semarang dan berhenti di masjid tertua di Semarang, yakni Masjid Kauman Semarang.

Patung warak ngěndhog sebagai simbol kerukunan tiga etnik di Semarang juga menjadi monumen di salah satu taman di Jalan Pandanaran. Lokasi tepatnya di pertigaan antara Jalan Pandanaran, Jalan MH. Thamrin, dan Jalan Mugassari, Semarang Selatan, Kota Semarang.
Patung Warak Ngěndhog | sumber: today.line.me

#KENALI
#CINTAI
#bersama
#SINAU_CAGAR_BUDAYA

0 Komentar

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama