Ianjo Pandansari: Saksi Sejarah Ianfu Semarang

 Oleh : Ika Dewi Retno Sari

Gambar 1. Kondisi Rumah Pandansari Nopember 20121
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Secara harfiah, Jugun Ianfu (従軍慰an婦) berasal dari bahasa Jepang yang berarti "perempuan penghibur yang ikut serta dalam militer". Jugun (従軍): Mengikuti militer atau ikut serta dalam perang. Ian (慰安): Penghibur, penenang, atau penghibur hati. Fu (婦): Perempuan atau wanita dewasa. Namun, dalam konteks sejarah Perang Dunia II, istilah ini merupakan eufemisme atau penghalusan kata yang digunakan oleh militer Jepang untuk menyebut budak seksual. Dalam istilah sejarah modern internasional, para korban kini lebih sering disebut sebagai "Comfort Women". Tetapi secara faktual merujuk pada korban pemaksaan dan perbudakan seksual secara sistematis oleh tentara Angkatan Darat dan Angkatan Laut Kekaisaran Jepang, karena mereka bukan pekerja seksual, bahkan penderitaan lahir batin harus mereka tanggung sepanjang hayat dan sebagian besar sudah menutup mata dalam trauma yang sangat dalam.


Terkait dengan sejarah Ianfu, ada tempat yang disebut Ianjo (慰安所 / Ian-jo) dalam istilah bahasa Jepang yang berarti "rumah bordil militer" atau tempat penampungan para Ianfu yang disekap dan dipaksa melayani kebutuhan seksual tentara Jepang selama Perang Dunia II. Meskipun Pemerintah Jepang sampai hari ini tidak pernah mengakui sebagai kejahatan perangnya tetapi faktanya Ianfu diselenggarakan secara sistematis. Pada sistem resmi, fasilitas ini didirikan, diawasi, dan diregulasi langsung oleh militer Kekaisaran Jepang demi mencegah penyakit menular seksual di kalangan tentara. Lokasinya tersebar di hampir semua wilayah yang diduduki Jepang, termasuk Indonesia, China, Filipina, Malaysia, dan Myanmar. Beberapa Ianjo sengaja dibangun oleh militer Jepang seperti yang ada di Kalimantan Selatan (penuturan mbak Eka dalam buku "Momoye"), sementara di beberapa tempat memanfaatkan bangunan-bangunan yang sudah ada. Jadwal kerja yang sangat ketat, setiap perempuan di dalam Ianjo dipaksa melayani puluhan tentara setiap hari berdasarkan pangkat dan jadwal yang telah diatur militer. Di tempat-tempat ini, para korban tidak hanya mengalami kekerasan seksual, tetapi juga kekerasan fisik, kelaparan, dan pemeriksaan medis secara paksa.


Dalam kegiatan Diskusi Publik "Jugun Ianfu" yang diselenggarakan Rumah Pohan pada 4 Juni 2026 dengan narasumber mbak Eka Hindra (Peneliti Ianfu) dan mas Rukardi (Sejarawan Semarang), saya mendapatkan informasi bahwa di Kota Semarang terdapat beberapa lokasi penampungan para Ianfu dan tempat mereka dipaksa untuk melayani tentara Jepang. Dari penuturan mbak Eka Hindra,  bahwa di Kota Semarang,  pelayanan yang dilakukan oleh para Ianfu selain berdasarkan jam operasional, ada juga  pembagian lokasi tertentu. Ada beberapa lokasi yang saya ketahui dari beberapa keterangan yang sudah banyak ditulis. Hotel du Pavilion dan Hotel Oewa Asia menjadi tempat bagi para perwira tinggi Jepang. Kemudian ada Hotel Singapore yang juga disebut Hinomaru  digunakan sebagai tempat transit Ianfu dari daerah-daerah sekitar Semarang. Ada satu lagi lokasi Ianjo yang ada di Jalan Pandansari yang saya dapatkan dari artikel mbak Eka Hindra. Dalam artikel itu disebutkan salah satu rumah di daerah ini. Keberadaan bangunan Semarang Kurabu ini diperoleh dari informasi yang didapat dari hasil riset Dr. Koichi Kimura. Salah satu survivor Ianfu bernama Sri  Sukanti  yang berasal dari Gundih-Purwodadi,  pada waktu itu dibawa ke Semarang dan ditempatkan di rumah ini. Beliau adalah Ianfu termuda saat zaman Jepang. Saat itu dia baru berusia 9 tahun dan dipaksa jadi Ianfu sekitar tahun 1942-1945. Mbah Sri saat itu menjadi Ianfu termuda se-Asia Tenggara. Beliau wafat pada 20 Desember 2017. Jenazah Mbah Sri dimakamkan di Pemakaman Umum, Kelurahan Gendongan, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga.


Semarang Kurabu ini terletak di Kelurahan Pandansari, Kecamatan Semarang Tengah, Gedung Semarang Kurabu ini lokasinya sangat strategis karena sangat dekat dengan hotel-hotel besar pusat kota bawah yang juga disita Jepang untuk perwira mereka, seperti Hotel Du Pavillon (kini eks-Hotel Dibya Puri) dan Hotel Oewa Asia, juga Hinomaru (kini Hotel Singapore) di Jalan Imam Bonjol. Pada penelusuran di bulan Januari 2021, saya menemukan rumah tersebut dan sempat bertemu dengan pemiliknya yang ternyata bukan pemilik awal bangunan ini dan tidak bisa memberi banyak penjelasan tentang sejarah rumah ini sebelumnya. Mereka hanya menjelaskan bahwa di bagian dalam rumah memang terdapat banyak kamar. Saya hanya diijinkan mengambil gambar-gambar di bagian luar rumah. Dan pada bulan Nopember 2025 lalu, rumah ini sudah kosong dan tertulis sedang dalam penawaran penjualan. Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa rumah ini pernah menjadi Ianjo di Semarang, bahkan saat saya sampaikan dalam pertanyaan saya di acara Rumah Pohan kemarin dan dibenarkan oleh mbak Eka Hindra.

Gambar 2. Kakak beradik pemilik rumah pada tahun 2021
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Gambar 3. Kondisi Rumah pada Nopember 2025
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Satu lagi lokasi yang disebut mbak Eka Hindra. yaitu Gedung  Tujuh  Samudra yang lokasinya ada di Candi Lama. Mudah-mudahan teman-teman penggiat Semarang bisa mengidentifikasi keberadaan gedung ini. Sehingga informasi yang didapatkan akan lebih melengkapi Sejarah Semarang pada masa Pendudukan Jepang.


#pendudukan_jepang
#sejarahkelam_ianfu
#ianjo_semarang


0 Komentar

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama